Berita


Laporan Penilaian Cepat RIL, PHPL, SVLK dan FSC di Inhutani II

Sebagai tindak lanjut MoU antara PT Inhutani II dengan TFF tanggal 25 Maret 2013, tim dari TFF segera melakukan kunjungan lapangan/Baseline Assessment ke lokasi PT Inhutani II Unit Malinau, Sei Tubu dan Semamu pada tanggal 5 - 14 Mei 2013 yang lalu. Tujuan dari kunjungan lapangan ini adalah :
  1. Untuk melaksanakan analisis kesenjangan terhadap pemenuhan standar PHPL dan SVLK yang dimiliki oleh Kementerian Kehutanan. Hal ini dilakukan untuk membantu Inhutani II dalam persiapan pelaksanaan kewajiban audit PHPL-SVLK.
  2. Untuk melaksanakan penilaian terhadap kebutuhan training bagi Inhutani II untuk implementasi pemanenan kayu yang ramah lingkungan (RIL).
  3. Untuk melakukan orientasi dan evaluasi terhadap ketiga unit IUPHHK-HA Inhutani II untuk menentukan strategi dalam kegiatan pendampingan sertifikasi FSC dibawah pendanaan dari Inhutani II dan The Borneo Initiative (TBI).
TEMUAN: SVLK & PHPL Hasil penilaian awal ini menunjukkan bahwa masih ada beberapa kriteria dalam SVLK yang belum dapat dipenuhi oleh ketiga unit IUPHHK-HA PT Inhutani II. Berdasarkan hasil skoring terhadap pemenuhan standar PHPL, unit Malinau mendapatkan persentase nilai 92.40 %, tetapi termasuk dalam katagori SEDANG karena ada capaian pada indikator 3.6 yang nilainya 55.60% atau BURUK, Unit Semamu mendapatkan persentase nilai 60.60 % atau termasuk dalam katagori SEDANG, sedangkan Unit Sei Tubu mendapkan persentase nilai 54.50% atau termasuk dalam predikat BURUK. RIL TFF telah mengembangkan suatu alat untuk monitoring dan evaluasi yang terdiri dari 13 kegiatan pengelolaan dan 33 indikator, yang mana dapat digunakan untuk melakukan penilaian kinerja sebuah perusahaan hutan alam terhadap pemenuhan standar RIL. Penilaian terhadap indikator dinilai dengan angka 0 – 5 dan kemudian dikalikan dengan nilai bobot untuk setiap indikator yang telah ditetapkan. Skor akhir yang dihasilkan memberikan indikasi kepatuhan perusahaan terhadap standar RIL. Skor sekitar 23% menunjukkan kepatuhan perusahaan terhadap peraturan dari Kemenhut, sementara skor ≥ 80% dapat diartikan bahwa suatu perusahaan telah dapat memenuhi standar RIL. Berdasarkan evaluasi yang yang dilakukan untuk setiap unit IUPHHK-HA PT Inhutani II terhadap standar RIL, didapat hasil sebagai berikut : Unit Malinau : 24,7% Unit Sei Tubu : 6 % Unit Semamu : 18,4% FSC Manajemen PT Inhutani II telah mengindikasikan niatnya mengejar tujuan sertifikasi FSC untuk 3 unit pengelolaannya di Kabupaten Malinau, dan telah menandatangani perjanjian dengan TBI untuk memberikan bantuan keuangan. Bagian dari perjanjian ini adalah untuk TFF untuk mewakili Inhutani II sebagai 'pemandu' sertifikasi untuk memberikan masukan teknis, bimbingan manajemen, dan mengungkapkan proses-proses sertifikasi secara umumnya untuk FMU Inhutani II. Ketiga unit IUPHHK-HA Inhutani II akan menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuan sertifikasi FSC. Tujuan kunjungan kali ini bukan untuk memberikan analisis rinci dari semua permasalahan tersebut, melainkan hanya untuk mendapatkan gambaran umum tentang situasi manajemen, staf, dan kondisi fisik dalam setiap unit pengelolaan hutan Inhutani II.
REKOMENDASI SVLK & PHPL Kajian cepat mengenai PHPL dan SVLK ini dilakukan pada masing-masing dari tiga unit pengelolaan hutan Inhutani II. Laporan penilaian PHPL dan SVLK ini akan disampaikan secara terpisah. PT Inhutani II harus mempersiapkan untuk audit tersebut atas kebijakannya sendiri setelah sosialisasi laporan hasil audit ini dilakukan baik secara internal maupun dengan para kontraktor. Unit Malinau sebenarnya bisa mendapatkan predikat baik jika segera membuat prosedur pengelolaan fauna yang dilindungi yang mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku, dan tercakup kegiatan perencanaan, pelaksana, kegiatan, dan pemantauan. Rincian mengenai kegiatan yang perlu ditindaklanjuti dapat dilihat pada laporan penilaian PHPL dan SVLK untuk masing-masing unit. Training RIL Peningkatan dalam semua aspek pengembangan bidang perencanaan dan operasional hutan akan diperlukan untuk mencapai sertifikasi FSC. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa Inhutani II bersama-sama dengan TFF, memulai program pelatihan RIL sesegera mungkin. Kekurangan staf perencanaan dan survey akan membatasi kegiatan pelatihan sampai saat Inhutani II dapat meng-upgrade tingkat kecukupan staf nya. Oleh karena itu, diusulkan bahwa pelatihan awal (training RIL modul #1 tentang pemetaan pohon dan topografi) dimulai dengan Unit Malinau dan Unit Semamu. Tujuannya adalah untuk menerapkan setidaknya empat modul pelatihan dalam RKT 2013 pada dua unit tersebut. Sertifikasi FSC Disarankan kepada PT Inhutani II untuk sesegera mungkin melanjutkan proses sertifikasi dengan melakukan tender untuk Pre-Assessment FSC secara bersamaan untuk ketiga unit-nya. TBI biasanya membutuhkan tiga penawaran dari lembaga sertifikasi untuk memulai proses ini. by : suriani (sumber: Executive Report Inhutani II -May 2013)

0 Komentar


Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


*masukan kode yang tertulis diatas